coachaddie.real • Uang Itu Tidak Terbatas Jadi Mengapa Masih Ada Orang Miskin? Oleh: Prof. Jiang Xueqin Pernahkah Anda bertanya-tanya, jika bank bisa mencetak uang dari ketiadaan, mengapa kemiskinan masih ada? Mengapa kita tidak mencetak uang saja dan membagikannya kepada semua orang yang membutuhkan? Dalam sebuah kuliah yang menggugah pikiran, Profesor Jiang Xueqin membongkar sejarah perbankan dan sifat asli uang untuk menjawab pertanyaan ini. Jawabannya mungkin akan mengubah cara Anda melihat dunia: kemiskinan bukanlah sebuah kecelakaan akibat kekurangan sumber daya, melainkan sebuah desain sistem yang disengaja. Asal Usul Uang Kertas: Janji di Atas Emas Sejarah perbankan modern dimulai dari para pedagang. Awalnya, emas adalah alat tukar utama, namun membawa emas fisik itu berat dan berisiko. Pedagang yang kaya kemudian mendirikan bank sebagai tempat penitipan emas. Sebagai gantinya, mereka memberikan resi atau kontrak secarik kertas yang menjanjikan bahwa pemegangnya bisa menukarkan kertas tersebut dengan emas kapan saja. Kertas resi ini jauh lebih praktis. Jika seseorang di Italia ingin membeli barang di Inggris, ia cukup membawa kertas resi tersebut daripada peti berisi emas. Inilah nenek moyang uang kertas modern. Menciptakan Uang dari "Ketiadaan" Bankir segera menyadari sesuatu yang menarik: emas yang disimpan di brankas mereka jarang diambil sekaligus oleh semua orang. Maka, mereka mulai meminjamkan "resi" kepada orang lain yang membutuhkan modal, meskipun tidak ada emas fisik baru yang masuk. Misalnya, bank memiliki emas senilai 5 juta. Mereka bisa mengeluarkan resi senilai 10 juta (5 juta untuk pemilik emas asli, 5 juta dipinjamkan ke orang lain). Secara efektif, bank telah menggandakan uang dan menciptakan nilai dari ketiadaan. Selama semua orang tidak meminta emas mereka kembali secara bersamaan (yang disebut bank run), sistem ini berjalan lancar. Inilah dasar dari sistem perbankan fraksional dan cikal bakal bank sentral. Paradoks Kemiskinan: Mengapa Tidak Cetak Uang Saja? Profesor Jiang kemudian mengajukan pertanyaan inti: "Jika bank bisa mencetak uang dari ketiadaan, dan uang itu pada dasarnya adalah angka yang tidak terbatas 2 ming PROFESOR LHA KOQ PEKOK NEMEN // SekarangBalas 🔥 1 minggu1 sukaBalas Sama dengan kenapa harga garam lebih murah dari pada emas? Bukankah semua itu manusia yg membuat nya berbeda? Tuhan tidak pernah menciptakan harga.. 1 minggu1 sukaBalas Hal-hal yang tidak akan pernah diajarkan di sekolah 👏 1 mingguBalas This is control😢 1 mingguBalas Intinya karena ada yg namanya ketamakan di dalam setiap diri manusia, makanya sistem ini terbentuk dan itu tidak bisa dihindari 1 mingguBalas Karena pejabat rakus pengen di jajah rakyat a😂 1 mingguBalas MENGAPA KEMISKINAN TETAP ADA? Banyak orang menjawab karena "kelangkaan" (scarcity) sumber daya terbatas. Namun, Prof. Jiang membantah hal ini. Uang itu sendiri tidak langka; uang itu infinit (tak terbatas). Kemiskinan tetap ada bukan karena kita tidak bisa mencetak uang, tetapi karena mereka yang berkuasa tidak ingin semua orang punya uang. Kemiskinan sebagai Alat Motivasi Menurut pandangan ini, kemiskinan memiliki fungsi vital dalam sistem ekonomi kita: menciptakan ilusi bahwa uang itu berharga. Jika uang dibagikan begitu saja seperti air hujan, nilainya akan jatuh menjadi nol. Jika semua orang kaya, siapa yang mau bekerja keras? Siapa yang mau melakukan pekerjaan kasar? Sistem ini membutuhkan kemiskinan untuk menciptakan rasa takut dan motivasi. Orang tua menasihati anaknya untuk "belajar giat dan bekerja keras agar tidak miskin". Jika tidak ada orang miskin, ancaman itu hilang, dan motivasi untuk bekerja keras demi mengejar uang pun lenyap. Jadi, kemiskinan bukanlah kegagalan sistem, melainkan fitur dari sistem itu sendiri. Kemiskinan dibuat untuk memaksa manusia bekerja. Peran Krisis dan Perang Lebih jauh lagi, Prof. Jiang menjelaskan mengapa krisis ekonomi dan perang terjadi. Dalam perspektif moneter ini, krisis (seperti pasar saham yang hancur) dan perang berfungsi untuk menghancurkan kekayaan/uang yang berlebih. Jika terlalu banyak uang beredar, orang mungkin merasa tidak perlu bekerja sekeras itu. Maka, "pemusnahan" nilai melalui krisis diperlukan untuk mengembalikan rasa kelangkaan, sehingga roda ekonomi yang digerakkan oleh tenaga kerja manusia tetap berputar. Kesimpulan: Ilusi Kehidupan Pada akhirnya, uang hanyalah konstruksi sosial. Nilai yang sesungguhnya bukanlah pada kertas atau angka di bank, melainkan pada tenaga kerja yang Anda berikan. Dunia ekonomi yang kita jalani digambarkan sebagai sebuah ilusi yang diciptakan untuk membuat manusia terus bekerja sekeras mungkin mengejar sesuatu yang sebenarnya bisa diciptakan tak terbatas oleh pemegang kekuasaan. Seperti permainan video game, kita berlari mengejar poin (uang) yang sebenarnya bisa saja diprogram untuk muncul begitu saja. Namun, tanpa ilusi kesulitan dan kelangkaan 2 ming10 sukaBalas
KEJAHATAN KAPITALISME
Maret 03, 2026 / by maxcorps.space / with No comments /
Semua orang berpendapat "TIDAK ADA MANUSIA SEMPURNA" >:: slogan berikutnya :: "Saya bukan siapa siapa" >:: penolakan dari eksistensialisme Cartesians ;; bikin jadi tidak peduli diri sendiri >:: "Cogito ergo Sum" [ aku berpikir maka aku ada :: kamu tidak berpikir maka kamu tidak ada :: Si non putas, non exsistis. ] - Agama diturunkan sebagai pelajaran untuk meraih Kesempurnaan menjadi MANUSIA SEJATI.



0 komentar:
Posting Komentar